Malware Penyandera Data Makin Merajalela


Symantec memaparkan bahwa malware penyandera data ransomware terus gencar menyerang PC serta perangkat mobile para netizen.

Data tersebut diungkapkan Symantec berdasarkan laporan "Internet Security Threat Report volume 21" yang baru saja dihadirkan oleh perusahaan keamanan jaringan tersebut.

Dengan pertumbuhan 35 persen dibandingkan tahun sebelumnya, ada 362.000 crypto-ransomware yang teridentifikasi hingga akhir 2015. Artinya, per hari ditemukan rata-rata 992 serangan crypto-ransomwaredi ranah maya.

Lebih spesifik, Indonesia menempati urutan ke-13 untuk wilayah serangan crypto-ransomware termasif. Rata-rata ada 14 serangan setiap harinya sepanjang 2015.

Apa itu ransomware?

Semacam konsep filosofi "Yin Yang", perkembangan teknologi rutin dibarengi potensi kejahatan cyber. Makin canggih suatu  teknologi, makin cerdas pula modus para penjahat cyber untuk mengelabui korban.

Salah satu program jahat di ranah maya yang paling memenyesalkan merupakanransomware. Program tersebut pertama kali teridentifikasi pada 2005 silam.

Modusnya sederhana, yakni menakuti pemakai dengan menimbulkan pengumuman bahwa perangkat terserang virus. Strategi ini kerap disebut misleading app.

Untuk membersihkan virus itu, ransomware meminta pemakai mentransfer sejumlah uang via kartu kredit. Seusai membayar, barulahransomware berhenti menebar ketakutan. Tutorial ini semacam meminta tebusan dari korbannya.

Seiring berlangsungnya waktu, pemakai makin cerdas serta sistem keamanan maya makin kuat. Modus misleading app tidak lagi dapat menipu netizen. Walau begitu, penjahat cyber tidak kehabisan akal.

Modus Enkripsi

Berbagai kali berevolusi, modus terakhir program jahat ini dinamaicrypto-ransomware. Kiprahnya dimulai sejak 2014 serta hingga saat ini tetap relevan memenyesalkan korban.

Lebih agresif, serangan tersebut mengenkripsi data digital pemakai serta menyanderanya hingga tebusan dibayar. Mula-mula ransomwareakan menimbulkan notifikasi pada software alias perangkat pemakai.

Notifikasi itu memancing pemakai  menyerahkan info personal semacam nomor telepon alias e-mail. Selanjutnya, penjahat cyber dengan mudah mengenkripsi data-data digital untuk minta anggaran tebusan.

"Penjahat cyber tidak lagi menakuti korban, tapi korban yang dengan sendirinya bakal menyerahkan data-data digitalnya," kata Dirextor System Engineering Symantec Halim Santoso pada sela-sela paparan "Internet Security Threat Report" volume 21, di Hotel InterContinental, Jakarta, Selasa (19/4/2016).

Sistem operasi Apple juga kena

Mulai dari sistem operasi Android, Linux, hingga OS X untuk Mac teridentifikasi sebagai santapan crypto-ransomware. Temuan OS X pasti mengejutkan. Pasalnya, tidak sedikit yang berasumsi bahwa sistem operasi buatan Apple tersebut kebal serangan cyber.

Ternyata, pada akhir 2015 hingga awal 2016, Apple tidak kuasa menghadang serangan salah satu varian malware tersebut.

"Apple terbukti lebih susah dibobol, tapi ternyata crypto-ransomwaretelah masuk ke sana," Halim membicarakan.

Ke depan, dengan maraknya implementasi "Internet of Things", Halim memprediksi bakal terus tidak sedikit tipe malware, tergolong inovasi ransomware. Walau begitu, ia tidak mematok angka prediksi yang signifikan.

"Pasti bakal berlipat ganda. Makanya bisnis maupun individu wajib berhati-hati mengontrol sistem keamanan data digital," ia membahas.

(Fatimah Kartini Bohang / Kompas.com)

0 Response to "Malware Penyandera Data Makin Merajalela"

Post a Comment

Berkomentar lah dengan sopan
jangan menitip kan link aktif atau saya akan menghapus nya
terimakasih atas kunjungan anda